Serpihan Perihku

Add caption
Aku terbangun dari tidur panjangku. Matahari sudah meninggi. Sisa hujan semalam, hawa dinginnya masih terasa di pagi ini. Membuatku jadi malas. Ingin lagi merebahkan tubuh di kasur. Baru saja mata terpejam. Hpku berdering. Brother namanya terpampang jelas di handphoneku.
Aku mengangkatnya.
Begitu banyak nasehat yang ku terima pagi ini.
Ada segelumat rasa pilu,perih dan sedih di ujung telpon tadi. Disudut mataku dua butir air mata jatuh perlahan membasahi pipiku.Gerai menuai sepi. Aku duduk di sudut ruang kosong.
Kurenungi nasib diri.., yang hidup dalam serba keterbatasan.
Ku tuang kisah pilu dalam sekumpulan kata yang tak berguna. Kuliahku yang belum saja usai membuatku merasa bersalah karena beban ini begitu berat dipikul beberapa tahun belakangan ini. Ayah dan ibu bekerja keras untuk aku dan adikku yang juga baru masuk kuliah di tahun 20013  kemarin.
Tuhan? Sedih . jelas saja sedih. Aku merasa di cambuk berungkali di punggunggku.
Aku tidak marah dengan kondisi seperti ini, Aku bangkit dari keterpurukan yang ada. Aku tekadkan niat untuk mencari jalan keluarnya. Aku harus bisa membiayayi hidupku sendiri di negri rantau ini, mulai dari biaya hidup dan kosanku.
Aku tak ingin ayah dan ibuku, sendiri menanggung biaya akhir kuliah ini. Berat sungguh. Berapa banyak lagi uang yang akan mereka keluarkan untukmu ? Apa harus sekalipun raga mereka terbaring lemah dihadapanmu, karena lelah seharian mencari uang. :( Betapa miris hidup ini. Aku hanyalah manusia , hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Hanya bisa berserah diri atas penentuan takdirku ini. Aku tidak bisa merubah takdir. Semua orang punya mimpi untuk hidup kaya. Dulu iya, tapi sekarang aku tidak bermimpi demikian ? kenapa ? kaya tak selamanya membuatku hidup bahagia ? sederhana seperti inilah yang membuat aku selalu sadar akan hidup yang susah., : Aku tidak mau hidup penuh bergelimang harta yang pada akhirnya membuatku menjadi orang yang tamak, angkuh dan sombong.
Tuhan ? Aku bahagia ... Meski kadang carut-marut rasaku dalam hidup ini. Aku tetap menikmati hidup ini dengan penuh syukur padamu. Karena bukan hanya aku yang demikian rupa, ada banyak lagi di luar sana yang hidup lebih susah dariku.

Berbahagialah anda yang hidup lebih berkecukupan daripada aku. Manfaatkan apa yang ada dengan sebaik-baiknya. Jangan hanya menghamburkan uang secara percuma dan sesuka hatimu. Sementara ayah dan ibumu membanting tulang tanpa mengenal lelah sediktpun hanya demi membahagiakanmu. Jangan mengecewakan mereka. Sekali luka tergores di hati mereka, kau tak lagi bisa di percaya. Dan janganlah ada bangga dulu, itu semua duit orang tuamu. Bangga itu dengan kerja kerasmu sendiri dalam menghasilkan uang.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergi untuk kembali

Ini aku apa adanya

Jaman Putih merahku